Taruhan nyawa

Beberapa hari lalu Indonesia eh Jakarta dihebohkan dengan gempa yang berpusat di Banten, bagi saya ini pengalaman gempa yang mengesankan, sampai-sampai kaki saya kram selama 3 hari, mungkin saya aja kali yah yang lemah, saat itu saya berada di lantai 33 dan harus turun ke lantai dasar melalui tangga darurat.

Diawal gempa ada seseorang yang mengatakan tidak usah khawatir, santai saja, hm mungkin dia sudah sering mengalaminya, tetapi setelah pintu lemari yang terbuat dari kaca bergeser, dia adalah orang pertama sampai di depan tangga darurat hehe.

Jumlah manusia yang kian bertambah membuat manusia membuat pohon-pohon dari beton yang berupaya untuk menggapai langit, terima kasih kepada om otis yang memungkinkan semua itu terjadi.

Om otis itu yg bikin sistem lift yang aman ( dengan sistem pegas daun) sehingga membuat orang bisa membuat gedung tinggi.

Ketika saya berada di lantai  tinggi, saya berpikir bahwa saya sedang taruhan nyawa dengan kematian.

Mungkin ada yang bilang, ah orang mati khan bisa dimana saja, yup saya setuju, hanya saja dengan berada di gedung tinggi, ini memperbesar kemungkinan kita untuk mati.

Bagaimana cara saya menghindari kematian dari gedung tinggi, ya nga bisa, saat ini saya bekerja di sana, paling yang bisa saya lakukan adalah dengan menguranginya.

Tips mengurangi resiko kematian di gedung tinggi:

1. Datang dan pulang kerja on time. (tapinya kalo ada kerjaan bisa dikerjakan di rumah atau tempat lain yang bukan gedung bertingkat)

2. Sering tugas keluar kantor.

3. Kalo libur, tidak main ke mall.

4. Sedia parasut, jadi kalo ada apa-apa bisa pecahin jendela trus turun pake parasut. (keseringan nongton pilem eksyen)

5. Harus tau dimana tempat untuk pegangan, kalo kayak di film transformer, gedung runtuh kita harus pegangan ke tiang beton, yekan?

6. Nanti ditambahin kalo keingetan.

Kira-kira itu yang ada dipikiran saya untuk meminimalisir kematian di gedung bertingkat, sekaligus meningkatkan persentase menang dalam taruhan nyawa. Ada ide lain?

Author: chandra iman

Saya seorang abah, suami & dosen \\ Penyuka media sosial \\ Cari saya @chandraiman di facebook dan twitter :)

5 thoughts on “Taruhan nyawa”

  1. Wkkk…beda 4 lantai Kang
    kemaren pas gempa saya di lantai 37
    turun tangga sampe lemes mana pas hari Minggunya maen futsal 2 jam, belum selesai pegelnya dihajar turun tangga pula, gelo lah leuleus pisan

    Bener sih, saya juga pas kerja di Sudirman dulu sering mikir, tiap hari kerja taruhan nyawa. Di gedung tinggi gitu kan resiko kerja naik berkali lipas dibanding kerja di rumah, heuu..harusnya minta gaji lebih gede,samakin tinggi gedung, semakin tinggi gaji *ngarep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge