Sanksi Sosial ‘Seumur Hidup’

Penyalahgunaan narkoba dewasa ini memang sudah seperti urat nadi. Cabangnya banyak, menjalar kemana-mana. Tidak pandang ‘bulu’, dari anak kecil yang masih duduk dibangku sekolah dasar, remaja, sampai om om, tante-tante sekalian dimanapun berada ‘disikatnya’ habis.  Seperti mendarah daging, kendati sulit dilepaskan ketergantungan dan bahayanya yang mengancam nyawa membuat tidak sedikit orang berusaha untuk menyalahgunakannya meski hanya berawal dari coba-coba. Ya, kalau si pengguna punya uang banyak, bisa beli narkoba dengan kocek kantong sendiri, kalau tidak? Maka kejahatan berikutnya pun akan terjadi.  Tindakan kriminal. MEN CU RI!

            Selain dari ancaman kematian yang tidak membuat pelaku jera dan takut adalah sanksi hukum perdata/pidana yang jelas-jelas kini, diabaikan. Terbukti semakin banyak pengguna. Untuk itu ada sanksi selain hukum pidana/perdata, yakni sanksi sosial yang akan secara otomatis muncul ketika ada pengguna atau mantan pengguna sekalipun. Hal ini dikarenakan, masyarakat yang tidak puas dengan sanksi hukum pidana/perdata yang berlaku. Misalnya saja, kasus korupsi.

Korupsi adalah masalah utama di negeri kita.  Banyak bencana yang kita rasakan, sering bermuara pada korupsi.  Bencana alam, banjir, tanah longsor akibat pembabatan hutan (illegal logging) dan penambangan yang serakah.  Kedua kegiatan perusakan hutan ini bisa berjalan mulus karena adanya suap dan korupsi pada oknum di lembaga terkait.  Kerusakan jalan, jembatan dan fasilitas umum lainnya, seringkali terlalu cepat datangnya, padahal baru dibangun/diperbaiki, inipun kita mafhum disebabkan adanya korupsi di pelaksanaannya, bahkan sejak perencanaannya.  Mungkin masih terlalu banyak lagi contoh lain yang (tidak) bisa kita sebutkan satu persatu.

Kenapa hukuman bagi koruptor yang tertangkap tidak membuat jera dan malu (bahkan masih bisa tersenyum saat diliput media) serta tidak membuat takut para koruptor yang masih bisa sembunyi?.  Apakah korupsi dan juga perbuatan curang lainnya seperti pemalsuan barang dan penggunaan bahan makanan berbahaya dalam jual banyak sudah dianggap biasa bagi masyarakat kita?-

Sanksi sosial adalah satu dari beberapa sanksi untuk seseorang yang berbuat kesalahan (selain sanksi yang bersifat administratif seperti sanksi hukum pidana/perdata). Sanksi sosial ini tidak berupa tulisan hitam diatas putih dan terkadang mulai muncul ditataran kerabat/tetangga terdekat, namun jika seseorang sudah melakukan berbagai kesalahan yang diulang sekian lama, maka sanksi sosial ini akan semakin meruncing, sang empunya salah akan mendapat sanksi sosial dari kelompok terkecil yaitu keluarga. Idealnya keluarga akan menjadi tameng untuk si pembuat kesalahan, namun karena keluarga sudah kecewa terhadap sikap dan tindakan yang dilakukan si pemilik salah, maka keluarga pun akan ikut menjauh bahkan terkadang menjadi menyerang.

Sebagai salah satu contoh kasus yang terjadi disebuah kampung Perdamaian (nama samaran). Dimana salah satu warganya menggunakan narkoba sudah sekitar kurang lebih setahun. Hobi menenggak pil koplo yang sudah berlangsung sejak lama itu membuat orang-orang antipati terhadapnya. Alih-alih karena coba-coba, entah karena pergaulannya diluar kampung atau kecintaannya yang sedemikian dahsyat dengan ‘syurga’ versi narkoba, membuat dia enggan untuk berhenti. Padahal sebelumnya si fulan dikenal sebagai pemuda yang baik, rajin dan ramah.  Jadilah kesehariannya berubah drastis. Si fulan jadi percaya diri habis-habisan, kerjanya luntang lantung. Jika dia mulai menampakan diri keluar rumah, tidak sedikit membuat warga yang kebetulan papasan dengannya kabur. Fulan, mendapat julukan Mr. PK (Pil Koplo).

Kehadirannya disetiap acara membuat warga lain khawatir. Misalnya acara tujuh belas Agustus-an atau acara dangdutan warga setempat. Belum lagi penampilan si fulan yang lusuh, bau rokok, dan wow! bau nafas tak sedap. Ternyata si fulan memang terkenal jarang mandi atau sekedar ganti pakaian.

Tidak hanya orang-orang disekeliling, keluarganya sendiri menjadi takut. Si fulan kerap kali ditemukan sedang berteriak-teriak tidak karuan. Hal ini tentu membuat warga resah dan khawatir anak-anak mereka mencari informasi tentang narkoba dan menjadi pengikut jejak langkah si fulan yang tidak karuan.

Masuk tahun kedua si fulan akhirnya masuk ke panti rehabilitasi. Berkat bantuan seorang warga yang menemukan dirinya tengah sakau dikamar tidurnya.

Beberapa bulan berada di panti rehabilitasi, ternyata mampu membuat si fulan sembuh. Tekadnya yang juga kuat untuk kembali hidup normal, tidak membuat dirinya harus berlama-lama disana. Keluarga menyambutnya dengan bahagia, kini si fulan yang dulu telah kembali. Fulan yang gemar hadir diacara-acara kampung, suka membantu, bahkan jadi pria idaman yang dilirik beberapa gelintir gadis dikampungnya. Yah, walaupun tampangnya tidak seganteng artis-artis ditelevisi.

Fulan pun menghirup udara segar kebebasan.

Selayaknya pemuda normal lain, sekarang si fulan bisa menjalani aktifitasnya seperti biasa. Begitu juga dengan cita-citanya membuka bengkel, pun sebagai bentuk implementasi keahliannya yang diperoleh di sekolah kejuruan dulu.

Ada celotehan, “mantan narkoba juga manusia” sejelek-jeleknya kelakuan si fulan dulu, kalau sudah tobat siapa yang bisa menghalanginya bisa meraih cita-cita? Ingin punya pekerjaan layak, rumah, kendaraan dan tentunya bisa menikah dengan istri idaman.

            Memang benar, dulu si fulan pernah jadi pria idaman. Tapi ternyata, rentang waktu dimana si fulan pernah menjadi ‘sahabat sejati’ pil koplo, otomatis membuat para gadis dikampungnya undur diri. Apalagi mengingat tingkah lakunya. Jangankan jalan bareng, untuk sekedar tegur sapa saja, bagi gadis-gadis di kampung X ini jadi hal yang agak mengerikan. Padahal, si fulan sudah terbilang taubat nasuha.

Usut punya usut. Fulan yang sudah membuka bengkel kecil-kecilan, jatuh cinta pada anak gadis di kampung tersebut. Cinta mati ceritanya. Hingga beberapa waktu berlalu akhirnya ia memberanikan diri datang ke rumah orang tua si gadis untuk melamar.

Meski tidak menolak secara kasar, tapi si fulan tahu bahwa orang tua si gadis enggan merelakan gadis satu-satunya itu jadi istri mantan pecandu narkoba. Akhirnya, Fulan pulang dengan tangan kosong.

            Dari kisah diatas bisa ditarik kesimpulan. Bahwa ternyata, imbas dari penyalahgunaan narkoba bisa berkelanjutan pun bagi para mantan pengguna. Sanksi sosial dimasyarakat berupa krisis kepercayaan bisa terus berlaku. Sebagai contoh, kekhwatiran orang tua si gadis akan kambuhnya si fulan dikemudian hari, yang akan membuat rumah tangganya jadi berantakan. Belum lagi alasan kesehatan atau anak keturunannya nanti. Siapa yang tau kalau anaknya bisa normal atau tidak?

            Nasi sudah menjadi bubur. Sulit untuk menghapus rapor merah si fulan yang sudah diterima masyarakat meski dia bertekad untuk berubah. Bisa jadi kita terhindar dari jerat hukum pidana/perdata, tapi ternyata kita tidak bisa menghindar dari sanksi sosial ‘seumur hidup’. Tanpa harus diminta, cap ‘mantan pecandu’ sudah bisa dibawa kemanapun si fulan pergi, bahkan pergi menghadap yang kuasa sekalipun.

Jadi, buat adik-adik, kakak-kakak, abang-abang, ncang, ncing nyak babe jangan pernah deh kita coba-coba, kalau tidak mau jadi bahan percobaan narkoba. Pikir lebih jauh sebelum bertindak.

“Konsekuensi hidup adalah mati, kapanpun bakal terjadi. Jadi sambil menunggu mati alangkah baiknya kita tidak mencari mati dengan menjadikan narkoba sebagai teman setia.”

Author: chandra iman

Saya seorang abah, suami & dosen \\ Penyuka media sosial \\ Cari saya @chandraiman di facebook dan twitter :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge