Roger Danuarta, Free Sex & Narkoba

Sebagai orang yang merasa satu generasi dengan Roger Danuarta (serasa muda hehe 🙂 ), masih bertanya-tanya, mengapa orang seganteng dan sekeren dia, bisa terjerat narkoba. Dari pertama kali istilah “narkoba” diperkenalkan di sekolah dasar, saya selalu membayangkan narkoba sebagai sesuatu yang seram, manakutkan, membahayakan, merusak masa depan dan sama sekali tidak keren dan tidak asik. Sehingga saya selalu menjaga diri untuk jauh dan tidak terlibat. Bukankah rasanya setiap orang yang normal akan berpikiran seperti saya?

Setelah dipikir-pikir lagi, narkoba itu mirip-mirip seperti sex bebas. Harusnya dari mulai masa puber, bahkan sebelum itu, banyak anak-anak diajari bahwa sex bebas itu berbahaya, bisa berakibat fatal, merusak masa depan, terutama bagi anak perempuan. Sehingga dapat dipastikan hampir semua anak perempuan yang normal akan berusaha menjaga diri baik-baik. Tapi kembali lagi, mengapa banyak anak perempuan, bahkan yang dari kalangan baik-baik juga seringkali tersandung masalah sex bebas.

Banyak orang bilang, justru semakin dilarang, maka anak-anak semakin tertantang untuk melakukannya. Apa iya? Rasanya untuk anak-anak yang baik dan normal tidak juga.

Mari kita tilik satu demi satu. Kita mulai dari sex bebas.

Sex bebas dipahami sebagai melakukan hubungan sex diluar perkawinan. Anak-anak yang baik dan normal pasti menginginkan kelak suami atau istrinya masih virgin seperti dirinya, sehingga akan menjaga dirinya dan diri pasangannya dengan sebaik-baiknya. Tapi, kebanyakan, ketika mereka mulai mengenal apa itu cinta, rasanya segala ajaran, nasehat dan keinginan yang baik hilang entah kemana. Sehingga sering dikatakan bahwa cinta itu buta. Dan ini kerap terjadi pada anak-anak yang hubungan dengan orang tuanya kurang baik. Sehingga ketika mereka merasakan ada orang lain yang lebih sayang terhadap dirinya, maka orang tua menjadi nomor dua. Namun, jika anak merasa hubungannya baik dengan kedua orang tuanya, merasa orang tuanya lebih sayang kepadanya daripada pasangannya, setidaknya dia akan memikirkan orang tuanya terlebih dahulu sebelum melakukan hal-hal yang dirasanya tidak baik.

Atau, bisa jadi hubungannya baik dengan orang tuanya, tapi sang anak mengalami tekanan atau paksaan dari pasangan, sehingga akhirnya tersandung sex bebas juga. Atau yang lebih ekstrim lagi, anak perempuan baik-baik bisa juga tersandung sex bebas karena diperkosa. Kalau disimpulkan ada tiga pencetus mengapa seseorang yang baik-baik melakukan sex bebas.

Pertama, karena kurangnnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua, sehingga ketika menemukan perhatian dari luar menjadi buta.

Kedua, karena salah pergaulan, bertemu dengan pasangan yang kurang baik, walaupun sebenarnya hubungan dengan orang tuanya baik.

Ketiga, karena adanya paksaan dari pihak yang tidak dikenal.

Sekarang mari kita tilik narkoba.

Apakah jika seseorang terlibat narkoba juga karena alasan yang sama seperti halnya tersandung sex bebas? Apakah pencetusnya sama seperti ketiga hal di atas?

Kebanyakan kasus narkoba terjadi karena ketidaktahuan pemakai, terutama di kalangan anak-anak. Diawali dari merokok, lalu ada yang menawarkan rokok jenis lain, setelah dicoba kok rasanya lain, lalu jadi kecanduan. Dulu ada kasus yang marak juga, yaitu ada yang membagi-bagi “permen” di sekolah, yang jika dimakan, rasanya bisa menjadi berbeda, lalu kecanduan. Kejadian ini mirip seperti anak-anak yang tidak tahu apa-apa lalu diperkosa. Bedanya, setelah diperkosa anak menjadi trauma, kalau ini menjadi kecanduan. Jadi bisa digolongkan sebagai adanya paksaan dari pihak yang tidak dikenal. Tapi sebenarnya kalau dipaksa sekali atau dua kali tidak akan sampai kecanduan bukan? Nah inilah akar masalahnya, setelah dipaksa, mereka harus diberi fasilitas, setidaknya untuk membeli berikutnya, pasti ada pihak yang memberi kemudahan, entah itu informasi mengenai tempat untuk mendapatkan dan membelinya, atau tempat dan cara untuk memakainya agar mereka kembali menggunakan narkoba.

Bagaimana dengan kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua? Apakah serta merta dapat mendorong keterlibatan anak untuk menggunakan narkoba? Saya rasa untuk ukuran anak yang normal, seburuk apapun hubungannya dengan orang tua, jika tahu bahwa narkoba itu bisa merusak masa depannya, maka dia akan berpikir dua kali untuk membeli lalu memakainya. Apalagi membelinya tidak gampang. Tapi jika saat hubungan dengan orang tua sedang buruk, dan kebetulan ada teman yang menawarkan, maka peluangnya menjadi semakin besar. Jadi disini tetap diperlukan adanya keterlibatan dan pemberian fasilitas dari pihak ketiga. Rasanya tidak banyak anak yang jika bermasalah dengan orang tuanya lalu searching di internet dimana beli narkoba, lalu serta merta memakainya untuk mengakhiri hidupnya. Sama sekali tidak praktis dan memakan biaya tentunya. Kecuali jika memang sengaja ingin merusak nama baik orang tuanya. Tapi peluangnya rasanya kecil.

Bagaimana dengan salah pergaulan? Rasanya sangat mungkin. Banyak juga kasus narkoba yang melibatkan pasangan, bukan? Mereka bertemu dengan orang yang salah, lalu entah dipaksa atau tergoda untuk mengikuti apa yang dilakukan pasangannya, menggunakan narkoba.

Dari analisa saya di atas, dapat disimpulkan bahwa walaupun pencetusnya sama, sebenarnya peluang seseorang untuk terlibat narkoba seharusnya lebih kecil dibanding dengan melakukan sex bebas. Karena dalam penggunaan narkoba, untuk mendapatkannya saja tidak mudah jika tidak tahu informasi dimana mendapatkannya, bagaimana cara menggunakannya, dsb, dan satu lagi, perlu mengeluakan biaya yang tidak sedikit.  Bisa dikatakan agar seseorang terjerat narkoba diperlukan pihak ketiga, yaitu para mafia penjual narkoba. Tidak aneh kalau kalangan artis dan orang-orang berduit menjadi salah satu sasaran para mafia penjual narkoba ini.

Jadi, mengapa Roger Danuarta yang kelihatannya baik dan alim serta artis-artis lain bisa sampai terlibat? Kemungkinan besar karena adanya pihak ketiga yang menawarkan atau memaksanya tentunya. Sehingga sudah sewajarnya yang mendapatkan hukuman bukan hanya yang memakai, tapi sumber lain yang memfasilitasinya juga harus dihukum lebih berat. Sama seperti kasus yang ditangani KPK bukan? Jika ada orang yang terbukti menerima suap, pasti sumber-sumber pemberinya juga terus dikejar-kejar, bukan? Sampai gara-gara AM tertangkap, terbongkarlah salah satu sumber pemberinya, yaitu “keluarga kerajaan” RAC.

Demikian analisa yang saya buat gara-gara kasus Roger Danuarta.

Saya berharap Indonesia bebas narkoba dapat segera terwujud dengan partisipasi aktif dari masyarakat dan Badan Narkotika Nasional. Maju terus generasi muda yang anti narkoba.

Author: chandra iman

Saya seorang abah, suami & dosen \\ Penyuka media sosial \\ Cari saya @chandraiman di facebook dan twitter :)

4 thoughts on “Roger Danuarta, Free Sex & Narkoba”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge