Narkoba jaman dulu dan sekarang

Seorang teman bertanya, ketika saya memulai menulis artikel ini dengan judul seperti diatas. “Apa bedanya narkoba yang dulu dengan sekarang?  Tetap saja bikin teler!” tanpa mengajukan pernyataan lain atau menunggu kalimat yang akan saya utarakan, teman saya berlalu pergi.

Seperti halnya dia. Mungkin, akan banyak lagi yang akan berkata bahwa sejak dulu sampai sekarang narkoba itu ME MA BUK KAN. Ya, saya sepakat dan akan menambahkan beberapa kalimat sesuai dengan pendapat seorang ‘pemakai’.  Bahwa, “narkoba  yang sekarang lebih ‘romantis’ dari yang dulu, lebih ‘memasyarakat’, lebih ‘pengertian’ ”. Waktu itu, saya sempat berpikir bahwa kalimat itu hanya akan keluar dari mulut mereka yang cintanya sudah terlanjur berkarat kepada narkoba. Dan satu kalimat yang lebih tepat adalah narkoba yang sekarang lebih mematikan alias turut berkontribusi dalam memberikan gelar mendiang kepada saja yang menginginkan.

            Menilik sejarah. Ada sebuah buku kuno berjudul  Nederlandsch Indische – Anti Opium – Vereeniging te Bandoeng 1927 tentang perawatan orang-orang yang kecanduan Narkoba di Rumah Sakit Juliana di Bandung pada tahun 1927, disertai gambar – gambar pasien sebelum ditangani dalam pengobatan dan sesudah perawatan beserta daftar biaya pengobatan dan lain-lain. Dijelaskan bahwa narkoba sudah ada sejak jaman Belanda hanya belum secanggih sekarang.

Saat itu yang ada baru hanya Madat dan Opium, belum beraneka jenis seperti sekarang yang lebih canggih dan lebih merusak tubuh. Kalau begitu, berarti kondisi sakaw itu tidak hanya terjadi dimasa modern seperti sekarang bukan?, Jaman dahulu pun sudah banyak masyarakat jadi pecandu. Hanya mungkin lebih sederhana saja, tidak seperti sekarang hingga muncul berita macam-macam, seperti impor ekstasi, penyelundupan sabu-sabu dan sebagainya.

Menurut wikipedia candu dikenal dengan nama lain, yakni candu, apiun, atau dalam bahasa slang Inggris disebut ”poppy”. Tanaman opium yang menghasilkan getah opium. Getah opium memiliki nama latin ”Papaver somniferum L. Atau P. Paeonofllorum”. Bunga dari opium biasanya disadap getah putihnya untuk bahan utama candu. Kalau getah itu diekstrak lagi akan menghasilkan morfin. Morfin yang diekstrak lebih lanjut akan menghasilkan heroin. Limbah heroin yang diekstraksi akan menghasil narkotika jenis sabu.

Karena saking banyaknya pengguna candu di Hindia Belanda saat itu, barang terlarang itu pun memberikan keuntungan yang besar untuk para pejabat pribumi dan pemerintah kolonial yang berkuasa di Indonesia saat itu. Lewat bandar – bandar yang berasal dari tionghoa, mereka bisa meraup keuntungan yang sangat besar. Maka dari itu tidak heran pada jaman dulu, perdagangan candu dilegalkan.

Candu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak jaman dahulu. Mayoritas penggunanya adalah dari kalangan masyarakat menengah kebawah. Karena saking legalnya, candu seperti menjadi sajian wajib diacara-acara para bangsawan atau dikalangan yang lebih rendah, candu diberikan kepada para lelaki pada acara seusai panen tiba.

Candu masuk ke dalam kehidupan masyarakat Jawa tanpa memandang pangkat dan derajat. Candu dijajakan dari rumah ke rumah. Hampir di setiap desa ada pondok tempat menghisapnya.  Orang Jawa membeli opium dengan duit yang didapat dari memeras keringat sebagai petani, pedagang, buruh, dan kuli perkebunan. Padahal, penghasilan seorang buruh pada 1885 rata-rata hanya 20 sen per hari.

Sementara itu, belanja opium rata-rata orang Jawa pada masa itu mencapai 5 sen per hari. Artinya, sekitar seperempat pendapatan dijajankan untuk opium. Diperkirakan, satu dari 20 lelaki Jawa mengisap opium hanya sebagai kenikmatan sesaat, tak sampai terjerat menjadi pecandu. Ibarat kata, kedudukan opium pada masa itu mirip dengan posisi rokok pada masa kini.

Pertanyaannya, bagaimana jika narkoba masih dilegalkan sampai sekarang? Mungkin sudah banyak warung-warung yang menjual narkoba seperti layaknya obat sakit kepala, atau seperti tukang sayur yang biasa berteriak  “sayur, sayur!” berganti dengan “putaw, putaw!” sungguh mengerikan, karena penggunaan candu  atau narkoba sejak dulu smpai saat ini, tetap menimbulkan saja dampak buruk.

Candu yang pernah berjaya di nusantara, kini semakin merajalela. Kalau Pada masa lalu orang-orang madat atau menghisap candu di rumah-rumah candu. Ditemani dengan camilan berupa irisan hati ayam yang digoreng plus teh nasgithel (panas, legi, kenthel). Kalau jaman sekarang, kehidupan seperti ini bisa disamakan dengan istilah ‘nongkrong di café’.

Adapula yang menyebutkan bahwa dulu, banyak berdiri Pondok yang memiliki belasan bilik kecil, tempat mengisap opium, lengkap dengan peralatan sekaligus pelayannya. Setiap hari pengunjung datang ke sana silih berganti, semata-mata untuk membius diri. Semuanya sah belaka. Dan pondok opium semacam ini bertebaran di seluruh pelosok Jawa, sejak 1800-an hingga 100 tahun kemudian

Hm… sekarang kita renungi dari sekian peristiwa-peristiwa yang ada disekeliling kita, atau pemberitaan di berbagai media. Narkoba, selain menyebabkan seseorang mabuk (hilang kesadaran), narkoba juga mampu memunculkan kasus-kasus penyimpangan lain dalam pergaulan seperti contoh sex bebas, khususnya yang dilakukan para remaja yang dari waktu ke waktu semakin mengkhawatirkan.  Sementara di masyarakat kita terjadi pergeseran nilai yang semakin jauh sehingga penyimpangan-penyimpangan seperti halnya penggunaan narkoba, kini sudah banyak menelan korban. Dan dalam kurun waktu tertentu, bisa dibayangkan akan jadi apa bangsa ini jika tidak bisa melepaskan diri dari barang terlarang tersebut.

Kini, Belanda bisa disebut sebagai ‘kafila lalu. Dulu dengan kelicikannya membuat masyarakat lemah lewat narkoba agar bangsa indonesia bisa dikuasai. Tapi yang lebih ‘hebat’ lagi, jika masyarakat saat ini tau bahwa narkoba adalah bagian dari visi misi itu, mestinya masyarakat sadar, mau belajar lebih dalam dan tidak menggunakan narkoba dengan tujuan apapun. Karena kita ingin menjadi bangsa yang merdeka, tidak dijajah secara fisik maupun mental. Tapi apa yang kita lihat sekarang? Narkoba justru mengambil alih peran Belanda di Indonesia.

Author: chandra iman

Saya seorang abah, suami & dosen \\ Penyuka media sosial \\ Cari saya @chandraiman di facebook dan twitter :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge