Modus penyelundupan Narkoba

Rupanya para pelaku sindikat narkoba tidak pernah kehabisan akal. Berbagai cara dilakukan para pengedar  untuk mengelabui petugas. Ada istilah, “semakin dilarang semakin berani”, “Ada peraturan adalah untuk dilanggar” benarkah demikian? Padahal seperti kita ketahui bahwa ancaman hukuman pidana mati, seumur hidup, atau pidana paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun serta denda maksimum Rp1 miliar telah diatur oleh pemerintah Indonesia. Lalu apa yang tidak membuat mereka jera? Ada indikasi, bahwa hal itu disebabkan karena eksekusi terhadap terpidana mati di Indonesia sangat lambat.

Adalagi, pada kasus Corby beberapa waktu lalu. Warga australia terpidana kasus penyelundupan 4,2 kilogram ganja pada 2004 akhirnya mendapatkan kebebasan bersyarat. Hal ini tidak mustahil membuat para pengedar dari luar semakin berani masuk ke Indonesia.

Undang-undang tinggallah undang-undang. Dengan sekian ancamannya saja masih membuat pengedar bebas beraksi apalagi dengan adanya kelonggaran hukuman Corby tersebut? Belum lagi untuk menyuap oknum aparat membuat peredaran narkotika bisa dikendalikan dari dalam balik jeruji.
Berbagai modus pun bermunculan. Ada yang dimasukan kedalam card reader, kereta bayi, magic jar, kaus kaki, sepatu, celana, CD (compact disk) , styrofoam, dimasukan kedalam koper, knalpot motor dan cara-cara lainnya.

Seperti main kucing-kucingan. Jika kucing yang satu tertangkap maka kucing lain akan mencari jalan lain agar tidak ditangkap. Modus lain yang dilakukan oleh pelaku sindikat narkoba internasional untuk mengirim barang haram ke lokasi tujuan adalah dengan menitipkan narkoba kepada TKI yang dideportasi ke negara asal.

Seperti yang pernah diberitakan di merdeka.com seorang wanita berinisial M ditangkap saat petugas Cargo Bandara Kuala Namu, Medan mengamankan sabu seberat 2.096,4 gram yang disembunyikan dalam alat pijat elektronik. Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Umum (Ditpidum) Bareskrim Polri menangkap dua orang pelaku penyelundupan manusia. Mereka menyelundupkan TKI ke Tiongkok secara ilegal sejak tahun 2012.

Beralih ke Kanada. Modus yang satu ini memang cukup unik yakni seorang wanita yang  menggunakan perut hamil palsu dan menyelipkan narkoba kedalamnya. Tapi akhirnya, usahanya diketahui juga dan wanita ini dibekuk di bandara kolombia. Lalu kasus penyelundupan beberapa waktu lalu dengan menyelipkan sabu di selangkangan. Sabu tersebut diplastikan dan dibentuk seperti popok lalu diletakkan di selangkangan pria dan wanita. Untuk kemudian pendisitribusian nantinya akan menggunakan jasa kereta api, dengan memanfaatkan kurir yang direkrut dari daerah.

Modus penyelundupan narkoba dengan ditelan.  Agar tidak terdeteksi sinar x-ray, mereka memakan 65 kapsul berisi 50 gram sabu. Selama perjalanan, mereka juga tidak makan supaya kapsul yang berada dalam perut tidak keluar saat buang air besar.

Apa yang menyebabkan para pelaku mahu menyelundupkan narkoba? Dari kasus-kasus yang sering saya amati bahwa ada faktor himpitan ekonomi. Simak saja, modus penyelundupan narkoba yang melibatkan para TKI yang berasal dari pulau Jawa yang  jika ditilik, mereka berasal dari kalangan masyarakat  berpenghasilan rendah. Yah, boleh dibilang, mereka dimanfaatkan keluguannya dan agar tersamar mereka dipulangkan bersama para TKI ilegal lain.

Bukan hal yang tidak mustahil jika mereka, para korban ini diupah dengan uang yang tidak sedikit. Buktinya, pada kasus penyelundupan narkoba jenis shabu yang ditelan, dimana si pelaku mengaku diberi upah sebesar 30 juta rupiah. Wow! Siapa yang tidak tergiur? Jujur saja, dengan uang sebesar itu bagi korban yang kebetulan mengalami himpitan ekonomi sangatlah berarti. Jika memang penyelundupannya berhasil dan uang cair, pelaku bisa membeli sebuah sepeda motor, sisanya bisa dipakai untuk membuka usaha kecil-kecilan dan lain-lain. Yah, meski kita semua sepakat bahwa usaha apapun yang didirikan dengan uang haram itu tidak halal. Ya toh?  Adalagi yang setelah diusut, ternyata si pelaku membutuhkan uang untuk biaya pengobatan salah satu anggota keluarganya yang sakit, membayar hutang – hutang, sekedar iseng untuk mencari tambahan dan atau alasan yang mungkin membuat anda geleng-geleng kepala, yakni pelaku mengaku melakukan penyelundupan narkoba dengan alasan untuk biaya pernikahan. Hm…. buang nafas panjang dulu sebelum akhirnya anda menemukan alasan-alasan unik lainnya.

Mereka sadar betul bahwa yang dibawanya adalah barang terlarang dan resiko yang mungkin dihadapi. Tapi kadang alasan dibalik dorongan untuk berbuat itu jauh lebih besar. Alih-alih mendapat upah 30 juta,  tapi karena gagal pelaku justru bisa kena hukuman kurungan 20 tahun penjara.

Rupanya narkoba bukan lagi seperti benih-benih diera Belanda dulu, tapi sudah seperti buah-buah siap petik. Bahkan, boleh jadi Indonesia bisa dikatakan sebagai ladang suatu hari. Karena mudahnya akses keluar masuk dan ancaman-ancaman pidana yang saat ini mungkin sudah dianggap sepele alias tidak membuat takut para pengedar narkoba tersebut.  Bayangkan saja, dari salah satu kasus penyelundupan ekstasi yang berasal dari Belanda. Nilai ekstasi itu ditaksir senilai Rp 165 juta dengan asumsi harga pasaran barang tersebut senilai Rp 350 ribu per butir. Dari 1 butir ini bisa dioplos menjadi 4 butir, sehingga dari 118 butir bisa menjadi 472 butir. Dahsyat kan?! Bukan manusia saja yang beranak cucu, ternyata ekstasi juga!!

Dengan berbagai macam modus penyelundupan narkoba yang semakin bervariasi, tentunya diperlukan kejelian serta keterampilan dalam mendeteksi. Mereka, sindikat-sindikat narkoba itu akan selalu mengupdate cara, karena tentunya mereka memantau kasus-kasus yang ada. Selain penanganan dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Badan Narkotika Nasional dan kepolisian diperlukan juga keikutsertaan masyarakat setempat mulai dari lingkungan RT/RW.

Karena dengan adanya bantuan dari masyarakat diharapkan para pengedar dari kelas ‘ece-ece’ pun bisa tertangkap dan diadili. Yah, seperti kata Aa Gym, “mulai dari yang kecil” kalau jumlahnya banyak lama-lama juga akan habis. Atau minimal didaerahnya / lingkungan warga setempat bisa bersih dulu dari peredaran narkoba.

Author: chandra iman

Saya seorang abah, suami & dosen \\ Penyuka media sosial \\ Cari saya @chandraiman di facebook dan twitter :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge