Mengapa kita ingin orang tahu bahwa kita sedang marah?

Saya beruntung lahir dan besar di lingkungan keluarga saya. Papa saya almarhum adalah orang yang cepat marah
Mendengar sesuatu yang tidak dia sukai, dia langsung marah, lain halnya dengan mama saya yang kalem, tapi kalo saya nakalnya kebangetan saya kena ciwit (cubit) juga haha πŸ™‚

Nah apa gunanya sih kita marah? Apakah hanya ingin menunjukan perasaan kita kepada orang lain?
Nah ketika orang lain tahu perasaan kita, apakah kita puas dengan hal itu?
Apakah dengan marah masalah kita bisa selesai?
Apakah kita sadar ketika kita marah kita menyakiti perasaan orang lain dan menyebabkan hubungan yang renggang dengan orang tersebut?

Jika mendengar pengalaman orang yang suka marah, mereka sebenernya sadar jika mereka gampang marah tetapi mereka sulit berubah, mereka yang marah merasa bahwa pendapatnya benar dan ingin orang lain mengakuinya, hal lainnya adalah mereka meluapkan kemarahannya dengan harapan keadaan bisa berubah sesuai dengan keinginan mereka.

Terkadang apa yang mereka inginkan tidak mereka dapatkan, dan terkadang mereka dapatkan πŸ™‚

Apakah orang yang marah/emosian bisa berubah?
Saya rasa bisa, dan saya mengenal orang yang beubah tersebut secara dekat, bukan cuma 1-2 orang lho.

Salah satu yang bisa merubahnya adalah waktu, dengan semakin bertambahnya umur orang akan jauh lebih bijak dalam menghadapi masalah.

Apakah anak muda bisa bijak diumur mereka? Tentu saja bisa, saya percaya orang tua, keluarga, teman memiliki pengaruh juga untuk merubah orang yang suka marah menjadi orang yang bijak dalam mengelola marah.

Semoga saya bisa kalem ketika sedang ada masalah.

Menyelesaikan masalah dengan kepala dingin

#Selfnote

Author: chandra iman

Saya seorang abah, suami & dosen \\ Penyuka media sosial \\ Cari saya @chandraiman di facebook dan twitter :)

11 thoughts on “Mengapa kita ingin orang tahu bahwa kita sedang marah?”

  1. Dulu saya juga pernah berpikir gitu Mas.. kalau ada sesuatu yang mengecewakan saya lebih baik diam. Bukan sok jadi pengalah tapi saya berusaha meredam kemarahan. Buat apa marah tapi kalau tidak bisa merubah keadaan.
    Semoga hal ini juga menginspirasi saya supaya tidak menjadikan saya seorang pemarah πŸ™‚

  2. katanya, orang yang paling kuat itu orang bisa menahan hawa nafsu dan amarahnya. tapi kalo saya suka diem-diem, mendem amarah di hati aja, kemudian berakhir di perut. pas udah makan banyak, baru deh ilang marahnya. dan beginilah hasilnya *tepok-tepok perut* πŸ˜€

  3. Ah….. judulnyah menyindirkuhhhhh >_<, tp seperti salah satu pernyataan didalamnya, ternyatah bisa juga belajar untuk tidak cepat marah,meski terkadang,saking dipendam perut jd sakit,nafsu makan berkurang dan maunya berendam aer segentong. anneh pan…

    Kini dirikuh justru ingin liad pacarku marrah.. bisakah…?

  4. Orang-orang bijak yang memiliki kedewasaan emosi tingkat tinggi, biasanya menggunakan marah sebagai instrumen juga. Kita bisa tidak suka dengan sesuatu, sebuah kondisi psikologis yang biasa kita sebut marah. Tapi menunjukkan sikap marah itu persoalan lain. Kita mesti taktis. Contoh kasus: Mungkin kita ingin orang melihat kita marah supaya kesalahan yang mereka buat tidak diulang. Mungkin kita ingin orang justru tidak melihat kita marah supaya mereka tidak takut membuat kesalahan dan berani bereksplorasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge