Marah perlu apa

Dan kami pun asik duduk di dalam kereta menuju kota sejuta harapan (Jakarta)

Ditengah perjalanan kami asik ngobrol ngalur ngidul gaya suami istri sambil tangan istri saya memegang novel bung andrea – padang bulan dan tangan saya sendiri memegang beri hitam

Sebenernya seru pembicaraannya karena saya tidak ingat detail kata-kata istri saya, saya akan tulis seingat saya saja πŸ™‚

Intinya “jangan marah”

Oh ya istri saya seorang guru, kadang suka marah kepada muridnya tetapi di kereta tadi dia berjanji akan menghilangkan marahnya dan mengganti kata-kata yang diucapkannya

Berawal dari tulisan di koran kompas mengenai seorang eyang yang khawatir cucunya yang berumur 4 tahun ingin mengupas mangga seorang diri, dia pun panik dan berteriak “jangan gunakan pisau itu, nanti tangan kamu terluka” Semakin kuat teriakan si eyang malah membuat si cucu bersikeras memotong dan tidak mau menyerahkan pisau itu. Lalu si eyang tadi berkata dengan lembut, yang intinya dia sangat khawatir dan dengan kelembutan dan akhirnya si cucu menyerahkan pisau itu.

Jika bisa lembut, mengapa harus kasar?

Jika bisa baik, mengapa harus marah?

Kami pun berdua setuju jika manusia kadang suka lepas kontrol dan marah, tetapi dengan belajar, maka kita dapat lebih mengontrol emosi

Dan kamipun berjanji untuk selalu mengingatkan jika salah satu dari kami marah.

Seorang anak kecil yang belajar berjalan dia akan mengalami jatuh dan kemudian bangkit kembali

Orang dewasa dalam hidupnya sudah dicekoki oleh perasaan takut gagal sehingga dalam proses belajarnya lebih banyak menyerah

harusnya kita belajar kepada anak kecil itu yang pantang menyerah sehingga akhirnya dia dapat berjalan dan berlari

Kemudian keretapun sampai di stasiun favorit kami, gambir dan usai pula obrolan suami istri kami πŸ˜‰

picture source: http://www.flickr.com/photos/piez/995290158/

2 thoughts on “Marah perlu apa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge