Jujur tentang narkoba

Rasanya perlu juga mengheningkan cipta sambil berkata, ‘‘ah lagi-lagi’’ jika melihat berita tentang narkoba di televisi. Belum lagi kasus Corby, Aussie yang baru-baru ini mendapat kebebasan bersyarat. Lalu, artis Raffi Ahmad bersama rekan-rekan artis lain dan yang masih hangat ditelinga, si ganteng Roger Danuarta.  Sangat disayangkan dan saya ingin 1000 kali tanya, “WHY??!!” belum cukupkah ancaman kematian yang sewaktu-waktu datang?

Mendengar kata narkoba membuat saya teringat kali pertama mengenal nama itu. Saya cerita ini, mengingat betapa pentingnya pengetahuan tentang narkoba, khususnya bagi remaja sebagai cikal bakal penerus bangsa. Yah, seperti hal nya rokok dan sex bebas yang perlu diketahui sejak dini sebab dan akibat yang ditimbulkannya.

Cerita dimulai sebelum saya dan keluarga hengkang dari Jakarta. Disebuah kampung yang cukup padat,  panas dan sangat berpotensi bagi narkoba untuk menggeliat selama dua puluh empat jam penuh.

Sebagai bocah rumahan yang masih lugu, pernah keluar dari mulut saya sebuah pertanyaan. Itupun setelah saya membaca sekilas headline news sebuah surat kabar, “NARKOBA MEMBUNUH DUA NYAWA SEKALIGUS” tanpa melirik sekalipun ke kalimat berikutnya, dengan tergesa saya melenggang kerumah, menenteng keranjang pem-pek dengan pertanyaan campur aduk. “Siapa itu narkoba?”

Nama yang aneh. Kesimpulan sementara yang terbersit dalam benak adalah  narkoba sebagai sesosok manusia yang jahat. Entah mengapa bayangan si kolor ijo yang justru muncul berkali-kali atau tokoh tokoh antagonis dikomik-komik. Terlebih sebuah tambahan informasi dari si emak, bahwa narkoba itu ‘’yang suka bikin mabok orang”. Informasi seadanya itu membuat saya membayangkan kembali bahwa penampilan dan gaya narkoba yang ugal-ugalan, berpakaian tidak rapi, jalan sempoyongan, suka berteriak, mengganggu orang sampai membunuh.

Masih penasaran, saya juga tanya bang Ucok, si ketua arisan togel didaerah itu. Meski sedikit sangar, beliau adalah sosok yang bersahabat terhadap siapapun.

“Ah, kau ini masih kecil. Buat apaan tau narkoba! Mending sana bantu mak mu!” tukasnya waktu itu. Semula mau berkata pelit tapi karena mulut yang masih tersumpal permen kojek, jadi saya hanya bisa mendengus kesal. Mengapa saya tidak boleh tau tentang narkoba?

Keterbatasan media saat itu membuat saya berhenti mencari. Seiring waktu semua terlupakan. Hingga pada suatu hari kami dikejutkan oleh salah seorang tetangga yang mati karena sakaw dengan posisi meringkuk. Ada selentingan berita bahwa, sebut saja Memet, mati karena narkoba. Kontan saya teringat kalimat di headline news surat kabar beberapa waktu lalu. Lagi lagi saya bertanya, mengapa narkoba sampai hati membunuh bang Memet yang baik hati?

Seiring dengan berlalunya waktu, informasi pun akhinya dengan mudah saya raih. Saya sempat tertawa ketika saya mendapati bahwa SAYA SALAH TOTAL dalam memahami arti narkoba. Sampai menginjak kelas satu sekolah menengah pertama, saya baru mengetahui narkoba hanya pada sebatas obat-obatan terlarang yang telah banyak disalahgunakan. Saya tidak lagi berpikir bahwa narkoba adalah sesosok lelaki yang kurang lebih seperti preman-preman yang suka sekali berkeliaran dijalan, atau tempat-tempat prostitusi didaerah saya waktu itu. Dengan celana jean penuh robekan, kaos tanpa tangan, tato dan rambut yang dibuat sangar.

Keputusan  keluarga untuk pindah ke Bogor ternyata adalah pilihan yang tepat. Saya sadar betul bahwa tindakan pencegahan almarhum bapak terhadap penyalahgunaan narkoba bisa diminimalisir, mengingat tiga diantara saudara kandung kami adalah laki-laki. Akhirnya pada tahun 1992, Jakarta yang sudah tidak lagi kondusif,  kami tinggalkan.

Tidak berhenti sampai disitu saja. Serasa semakin dikenali. Pengalaman memiliki teman pecandu narkoba saya alami ketika duduk dibangku sekolah menengah kejuruan. M, inisial dari teman sekelas dulu. Mungkin, diawal, karena ketidakpercayaan dirinya terhadap obesitas yang dialami membuat dia memutuskan diri untuk mengambil jalan pintas. M yang memiliki percaya diri yang tinggi membuatnya terpilih sebagai ketua kelas. Meski masa jabatannya tidak berlangsung lama karena kebiasaan buruk M menggunakan narkoba terbongkar.

Kerugiannya semakin bertubi-tubi. M di skors dari sekolah untuk beberapa waktu. Banyak dijauhi teman-teman dan kerap kali jadi bahan sindirian. Resiko dikucilkan. Meski  M  tidak sampai melakukan pencurian karena teman yang satu ini memang terkenal berdompet tebal.

Dari pengalaman itu saya bisa tarik kesimpulan, bahwa ketidakpercayaan diri bisa memicu seseorang untuk menggunakan narkoba. Meskipun mungkin reaksi yang timbul disetiap orang berbeda. Sungguh sangat disayangkan. Dikala banyak sekali alat yang lebih bermanfaat dan halal yang bisa memfasilitasi keinginannya, M justru memilih cara-cara instan, tidak wajar dan penuh resiko.

Sekarang, saya jauh lebih mengerti dan terus menggali informasi seputar barang-barang terlarang tersebut. Sebagai catatan kaki, atas telatnya saya mendapat informasi tentang narkoba, saya sebenarnya ingin menghimbau agar pengetahuan tentang penyalahgunaanya, dampak yang ditimbulkan, pencegahan dan pengobatannya hendaklah diketahui dengan baik oleh para orang tua dan tidak ditutup – tutupi hanya karena alasan seseorang masih terlalu kecil untuk tahu. Bayangkan jika keingintahuan saya yang semakin besar disertai dengan ambisi untuk mencoba? Mungkin saya sudah menjadi korban berikutnya.

Orang tua justru harus mempelajari masalah narkoba, mengajarkan kepada anak tentang baik buruknya, mencegah pengaruh negatif  berita kriminal dengan mengawasi saat menonton televisi atau ketika membaca berita dari media lain seperti surat kabar dan internet, memberikan contoh yang baik bagi anak, berusaha menjaga keharmonisan keluarga dengan saling terbuka.

Saya rasa dengan langkah-langkah itu sudah sangat baik sebagai langkah awal antisipasi terhadap masuknya narkoba kedalam lingkungan keluarga. Ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan banyak lembaga dalam memberantas narkoba.

Sekali lagi saya katakan, AYO kita sama-sama belajar, sama-sama membenahi diri dan melindungi keluarga kita dari jeratan narkoba. Agar kedepan Indonesia menjadi negara maju dengan generasi penerus bangsa bebas dari narkoba. Semangat!

Author: chandra iman

Saya seorang abah, suami & dosen \\ Penyuka media sosial \\ Cari saya @chandraiman di facebook dan twitter :)

3 thoughts on “Jujur tentang narkoba”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge