Cuminya kok sedikit banget?

Siang tadi saya telat makan siang, sebagai seorang lonely wolf saya tidak takut untuk berjalan sendirian mencari mangsa makan & tempat makan yang paling dekat adalah kantin karyawan yang ada di basement.

Dengan langkah sedikit gontai karena kekurangan glukosa akhirnya saya sampai juga ke kantin karyawan, tanpa babibu saya memilih menu maka saya yaitu nasi telur dadar dengan topping cumi.

Cuminya kok sedikit banget? celetuk temannya, tetapi mas yang mengambilkan makanan tetap cuek dan memberikan makanan itu kepada saya.

Rp. 15.000,- adalah Damage Cost saya siang ini.

Sambil makan saya melamun sendirian…

Saya mulai berpikir besok-besok saya tidak mau dilayani oleh mas itu lagi karena si mas nya ngasih cumi sedikit banget atau bahkan saya tidak akan pernah membeli dari tempat itu lagi, selamanya.

Seandainya ada penjual lain yang menjual menu yang sama tetapi memberikan cumi lebih banyak mungkin saya akan pindah ke penjual lain.

Seandainya saja ada standarisasi untuk jumlah cumi yang diberikan kepada setiap pembeli mungkin pembeli itu akan merasa nyaman dan ada kemungkinan dia akan menjadi pelanggan tetap, bahkan menjadi evangelist dari tempat makan itu.

Selalu ada hal positif di semua kejadian yang negatif, salah satunya saya jadi memiliki ide untuk menuliskan postingan ini. 🙂

Malam ini saya akan mimpi makan banyak cumi.

Author: chandra iman

Saya seorang abah, suami & dosen \\ Penyuka media sosial \\ Cari saya @chandraiman di facebook dan twitter :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge